Kondisi Sampah Kota Bekasi

Permasalahan lingkungan yang sampai saat ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia adalah sampah. Sampah  merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan barang sisa yang sudah tidak digunakan lagi dan harus dibuang. Dalam kamus lingkungan (1994) dikatakan bahwa Pengertian Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara biasa atau khusus dalam  produksi atau pemakaian; barang rusak atau cacat selama manufaktur; atau materi berkelebihan atau buangan. Secara umum sampah yang sering dijumpai dilingkungan masyarakat adalah sampah organik (mis: sampah dapur dan sampah restoran), sampah anorganik yang rentan terurai (mis: plastik, kaca) dan sampah industri yang berasal dari kegiatan industri.

Sampah yang tidak terurus dengan baik akan menyebabkan masalah yang tidak ada putus-putusnya, seperti menurunnya kesehatan, menurunnya nilai estetika, menimbulkan polusi udara sebagai akibat dari hasil pembakaran sampah secara terbuka, menyebabkan pencemaran air karena air pada sampah umumnya mengandung bahan kimia, bakteri dan kotoran yang dapat merembes dan menimbulkan pencemaran air. Kota-kota di Indonesia saat ini mengalami masalah sampah yang diakibatkan dari meningkatnya laju pertumbuhan penduduk yang menyebabkan kebutuhan meningkat, masayarakat yang tidak disiplin, perubahan gaya hidup menjadi konsumerisme, serta meningkatnya penguasaan teknologi dan industri yang menimbulkan pencemaran sebagai akibat hasil sisa industri.

Seperti halnya Kota Bekasi yang memiliki 12 kecamatan dengan jumlah penduduk pada tahun 2010 mencapai 2.084.000 dan belum termasuk penduduk sementara (sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi dalam Kota Bekasi dalam angka 2010), kota ini yang tidak hanya dijadikan wilayah pemukiman tapi juga kota perdagangan, jasa dan industri menyebabkan masalah sampah menjadi persoalan utama. Masalah yang dihadapi terkait sampah adalah tonase dan volume sampah yang terus meningkat. Pada tahun 2010 tonase sampah mencapai 138.346.45 ton dan volume sampah mencapai 553.665 meter kubik.

Tonase dan Volume sampah tersebut akan terus bertambah seiring bertambahnya penduduk, kebutuhan penduduk dan semakin pesatnya industri. Sampah di Kota Bekasi berasal dari berbagai sumber diantaranya dari pemukiman, indusitri, perkantoran dan taman serta pasar. Sampah yang dihasilkan tersebut dikelola oleh Pemerintah Kota Bekasi dengan cara (1) Pengumpulan sampah dari sumbernya, (2) pengangkutan sampah ke TPA, dalam hal ini adalah TPA Sumur Batu, (3) Pembakaran sebagian sampah dengan incenarator (www.bekasikota.go.id). Pengelolaan yang hanya seperti itu berakibat pada menumpuknya sampah di TPA Sumur Batu. Lahan TPA Sumur Batu hanya seluas 10 hektar dan lahan tersbut dibangun 4 zona yang seluruhnya sudah melebihi kapasitas, misalnya saja zona 4 ketinggian tumpukan sampah mencapai 20 meter yang idealnya hanya 15 meter dan hal ini menyebabkan longsornya tumpukan sampah.

Menumpuknya sampah di TPA menyebabkan masyarakat membuang sampah di badan jalan kawasan TPA dan mengakibatkan adanya tempat pembuangan sampah liar. Tidak hanya kelebihan muatan, pengelolaan tersebut juga menimbulkan pencemaran lingkungan. Air lindi yang dihasilkan mengalir langsung ke kali dan mencemari sumur-sumur warga sehingga menyebabkan menurunnya kualitas air dan warga sekitar TPA sulit mendapatkan air bersih. Tidak hanya pencemaran air tapi juga pencamaran udara yang terjadi karena bau busuk yang ditimbulkan dan hasil dari pembakaran sampah. Pencemaran ini akan berdampak buruk bagi kesehatan warga sekitar TPA. Pengelolaan sampah di Kota Bekasi yang seperti itu mengakibatkan Kota Bekasi mendapatkan julukan Kota Metropolitan Terkotor se-Indonesia oleh Kementrian Lingkungan Hidup yang diumumkan beretepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2010 (www.indopos.co.id). Masalah tersebut sebagai akibat dari pengelolaan sampah di Kota Bekasi tidak jelas apakah menggunakan sistem open-dumping atau sanitary landfill sehingga berbagai persoalan muncul dalam pengelolaan sampah di Kota Bekasi dan TPA tidak dikelola secara profesional (www.suarapembaruan.com)

Masalah-masalah tersebut akan terus berlangsung jika tidak ada penyelesaiinnya dan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan keadaan Kota Bekasi. Mari kita mulai menyadari dan peduli akan permasalah tersebut.

Terimakasih telah menyimak tulisan ini, tanggapan mengenai tulisan, komentar terkait masalah serta saran sangat ditunggu. Karena ini bersifat ilmiah, dalam komentar anda diharapkan dapat mencantumkan ID, nama, jabatan, dan instansi (tempat bekerja/belajar) agar komentar anda dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Terimakasih, terus simak blog ini yaa. 🙂

Selayang Pandang

marikelolasampah.wordpress.com dibuat oleh mahasiswi tingkat akhir Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang (baca: wandhira) sebagai salah satu media untuk penelitian. Penelitian yang akan dijalankan terkait kebijakan pengelolaan sampah, khususnya di Kota Bekasi, mengingat kota Bekasi merupakan wilayah padat penduduk dan sampah merupakan salah satu penyebabnya pencemaran lingkungan.

Melalui blog ini yang nantinya akan di posting temuan-temuan dari peneliti dari penelitian yang berjudul  Evaluasi Kebijakan Pengelolaan Sampah Merujuk pada Alternatif Pengelolaan Sampah (Studi pada Pengelolaan Sampah Kota Bekasi). diharapkan akan muncul berbagai komentar terkait pengelolaan sampah, harapan masyarakat serta saran-saran untuk pengelolaan sampah yang kemudian akan disusun sebagai alternatif-alternatif kebijakan.

Semoga blog ini bermanfaat. Amiin