Penggunaan Teknologi dalam Pengelolaan Sampah di TPA Sumur Batu

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan terkait teknologi yang digunakan dalam melakukan pengelolaan sampah yang diterapkan TPA Sumur Batu milik Pemerintah Kota Bekasi. Hal ini didasarkan atas interview yang dilakukan dengan Bapak Bagong Suyoto selaku Ketua dari Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional, Bapak Diding Ruswandi selaku Ketua Dekorta Bekasi Gerakan Masyarakat Pelestari Lingkungan Hidup (GMPLH) serta oprator teknisi dari PT.Gikoko

Penggunaan teknologi sangat diperlukan dalam pengelolaan sampah hal ini sejalah dengan dikeluarkannnya Undang-undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Pengelolaan yang dilakukan di TPA adalah dengan menerapkan program Clean Development Machanism (CDM). Dalam melaksankan program ini Pemerintah Kota Bekasi melakukan kerjasama dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia. Upaya ini merupakan bagian dari program pengurangan dampak gas methane (CH4), yang memiliki pengaruh langsung terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global (global warming) karena TPA merupakan salah satu sumber penyebab dari gas rumah kaca. Mekanisme ini menganut perdagangan karbon, setiap ton gas metan yang dibakar akan mendapat kompensasi. Namun pengelolaan ini masih tahap verifikasi. Selain itu pengelolan ini tidak mengurangi sampah, namun sampah akan berkurang dengan sendirinya karena proses dekomposisi. Saat ini zona yang dilakukan proyek ini adalah zona 1 dan 2 karena sudah tidak beroprasi lagi atau dengan kata lain sudah tidak dibuangi sampah. Untuk proyek ini hanya bisa dilakukan untuk zona yang sudah tidak aktif lagi.

Berikut gambar terkait program CDM

cdm

 

20130423_121026

Pengelolaan lain yang dilakukan di TPA adalah dengan membangun fasiltas pemilah sampah yang dilanjutkan dengan komposting. Tujuan dari komposting adalah untuk mengurangi sampah, misalnya sampah pasar dapat diolah menjadi kompos.  Pengelolaan ini dibawah naungan BUMD Mitra Patriot. Namun proses ini tidak dapat berjalan dengan lancar karena fasiltas yang tidak dimanfaatkan.

Upaya yang dilakukan ini belum bisa mengurangi sampah di TPA Sumur Batu karena belum sebanding antara sampah yang diolah dengan sampah yang datang tiap harinya.

Bagaimanakah menurut anda tekonologi pengelolaan yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Bekasi dalam pengelolaan di TPA Sumur Batu? Bagaimanakah pengelolaan TPA didaerah anda tinggal?

PS: mohon meninggalkan nama, pekerjaan dan alamat jika berkenan ketika memberikan komentar.termikasih.

Advertisements

Pemrosesan akhir dan kondisi lingkungan di sekitar TPA Sumur Batu

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan terkait bentuk pemrosesan akhir yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi dah kondisi lingkungan disekitar TPA. Hal ini didasarkan atas interview yang dilakukan dengan Bapak Bagong Suyoto selaku Ketua dari Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional, Bapak Diding Ruswandi selaku Ketua Dekorta Bekasi Gerakan Masyarakat Pelestari Lingkungan Hidup (GMPLH), pegawai Dinas Kebersihan serta warga sekitar TPA.

Berdasarkan Laporan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan di TPA Sumur Batu dan TPA Bantar Gebang, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu yang memiliki luas 11 Ha terbagi dalam 6 zona yakni:

  1. Zona I:        1,33 Ha
  2. Zona II:      1,2 Ha
  3. Zona III:     1,78 Ha
  4. Zona IV:     2,3 Ha
  5. ZonaV:       1,4Ha
  6. Zona IV:     1,97 Ha

Zona merupakan tempat berdasarkan landscap. Zona tersebut berfungsi untuk membedakan zona yang aktif dan zona yang sudah tidak aktif. Untuk saat ini zona yang aktif adalah zona V karena ke- 4 zona lainnya sudah penuh. Ketinggian rata-rata zona mencapai 18-20 m dari titik nol. Maksimal zona penuh dalam jangka waktu satu tahun. Solusi yang diberikan oleh pemerintah ketika zona tersebut penuh adalah dengan melakukan perluasan lagi.

Dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2008 diamanatkan bahwa dilarang melakukan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir untuk itu pemrosesan akhir di TPA menggunakan sistem konstruksi semiquasi open dumping atau semacam controlled landfill. Sebelum sampah dibuang, TPA harus dikonstruksi terlebih dahulu. Pada konstruksi ini harus terdapat pipa untuk mengalirnya air lindi yang dihasilkan dari timbulan sampah kemudian harus ditutup dengan tanah merah.

Dalam pelaksanaannya timbulan sampah baru akan ditutup tanah merah ketika ketinggian tumpukan mencapai 11m, hal ini yang menyebabkan timbulan sampah longsor dan menyebabkan bau dan banyak lalat. Tidak hanya itu, sudah tidak berfungsinya saluran IPAS berdampak pada airlindi yang dihasilkan akan mencemari lingkungan. Penumpukan sampah yang terjadi disebabkan bukan hanya karena pengelolaan di TPA yang kurang maksimal melainkan juga karena belum maksimalnya pengurangan sampah dari rumah tangga, pasar dan lain sebagainya.

beberapa gambar terkait TPA Sumur Batu

TPA Sumur Batu20130411_11093420130423_115444

Berdasarkan penuturan masyarakat sekitar kondisi lingkungan sekitar sangat terganggu dengan bau yang ditimbulkan dan suara bising akibat mobil truk dan alat berat yang dioprasikan. Untuk air minum rata-rata masyarakat di sekitar TPA harus membeli air. Kondisi kesehatan masyarakat sekitar sering mengalami sakit batuk, panas, gangguan pernapasan,untuk anak-anak mengalami plek (paru-paru) yang diawali dengan gangguan pernapasan sebagai akibat bau, udara kotor dan oprasional TPA. Biaya yang dikeluarkan untuk  kebutuhan masyarakat sekitar sangatlah mahal karena harus mengeluarkan biaya untuk pembelian air dan biaya kesehatan.

Bagaimanakah menurut anda kondisi seperti ini? Atau anda merupakan warga yang tinggal di sekitar TPA Sumur Batu?

PS:ketika memberikan komentar tuliskan nama, pekerjaan dan alamat jika berkenan.terimakasih 🙂