Pemrosesan akhir dan kondisi lingkungan di sekitar TPA Sumur Batu

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan terkait bentuk pemrosesan akhir yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi dah kondisi lingkungan disekitar TPA. Hal ini didasarkan atas interview yang dilakukan dengan Bapak Bagong Suyoto selaku Ketua dari Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional, Bapak Diding Ruswandi selaku Ketua Dekorta Bekasi Gerakan Masyarakat Pelestari Lingkungan Hidup (GMPLH), pegawai Dinas Kebersihan serta warga sekitar TPA.

Berdasarkan Laporan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan di TPA Sumur Batu dan TPA Bantar Gebang, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu yang memiliki luas 11 Ha terbagi dalam 6 zona yakni:

  1. Zona I:        1,33 Ha
  2. Zona II:      1,2 Ha
  3. Zona III:     1,78 Ha
  4. Zona IV:     2,3 Ha
  5. ZonaV:       1,4Ha
  6. Zona IV:     1,97 Ha

Zona merupakan tempat berdasarkan landscap. Zona tersebut berfungsi untuk membedakan zona yang aktif dan zona yang sudah tidak aktif. Untuk saat ini zona yang aktif adalah zona V karena ke- 4 zona lainnya sudah penuh. Ketinggian rata-rata zona mencapai 18-20 m dari titik nol. Maksimal zona penuh dalam jangka waktu satu tahun. Solusi yang diberikan oleh pemerintah ketika zona tersebut penuh adalah dengan melakukan perluasan lagi.

Dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2008 diamanatkan bahwa dilarang melakukan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir untuk itu pemrosesan akhir di TPA menggunakan sistem konstruksi semiquasi open dumping atau semacam controlled landfill. Sebelum sampah dibuang, TPA harus dikonstruksi terlebih dahulu. Pada konstruksi ini harus terdapat pipa untuk mengalirnya air lindi yang dihasilkan dari timbulan sampah kemudian harus ditutup dengan tanah merah.

Dalam pelaksanaannya timbulan sampah baru akan ditutup tanah merah ketika ketinggian tumpukan mencapai 11m, hal ini yang menyebabkan timbulan sampah longsor dan menyebabkan bau dan banyak lalat. Tidak hanya itu, sudah tidak berfungsinya saluran IPAS berdampak pada airlindi yang dihasilkan akan mencemari lingkungan. Penumpukan sampah yang terjadi disebabkan bukan hanya karena pengelolaan di TPA yang kurang maksimal melainkan juga karena belum maksimalnya pengurangan sampah dari rumah tangga, pasar dan lain sebagainya.

beberapa gambar terkait TPA Sumur Batu

TPA Sumur Batu20130411_11093420130423_115444

Berdasarkan penuturan masyarakat sekitar kondisi lingkungan sekitar sangat terganggu dengan bau yang ditimbulkan dan suara bising akibat mobil truk dan alat berat yang dioprasikan. Untuk air minum rata-rata masyarakat di sekitar TPA harus membeli air. Kondisi kesehatan masyarakat sekitar sering mengalami sakit batuk, panas, gangguan pernapasan,untuk anak-anak mengalami plek (paru-paru) yang diawali dengan gangguan pernapasan sebagai akibat bau, udara kotor dan oprasional TPA. Biaya yang dikeluarkan untuk  kebutuhan masyarakat sekitar sangatlah mahal karena harus mengeluarkan biaya untuk pembelian air dan biaya kesehatan.

Bagaimanakah menurut anda kondisi seperti ini? Atau anda merupakan warga yang tinggal di sekitar TPA Sumur Batu?

PS:ketika memberikan komentar tuliskan nama, pekerjaan dan alamat jika berkenan.terimakasih 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Pemrosesan akhir dan kondisi lingkungan di sekitar TPA Sumur Batu

  1. terima kasih atas info yang sangat menarik dari website ini. saya baru mengetahui bahwa kondisi di TPA cukup memprihatinkan. selama ini saya hanya mengetahui bahwa sampa yang saya buang telah diangkut oleh petugas sampah yang terdapat di kompleks rumah, tanpa saya mengetahui ternyata sampah saya hanya ditumpuk di TPA. kondisi TPA yang sudah menggunung tentunya bukan informasi yang indah untuk di dengar. menggunungnya sampah merefleksikan bahwa masyarakat sudah mulai tidak peduli dengan kondisi lingkungan sekitar. saya sangat berharap permasalahan sampah tersebut dapat sedikit berkurang sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan disekitarnya. selain itu, saya juga ingin bertanya, bagaimana tanggapan pemerintah dengan menggunungnya sampah di TPA sumur batu? apakah masih ada kemungkinan sampah tersebut dapat dikelola, mengingat bertumpuknya sampah hingga seperti bukit?

  2. terimakasih atas komentar yang anda berikan. berharap setelah membaca ini kita bisa menjaga lingkungan kita dimulai dari sampah yang kita hasilkan.
    sejauh ini hasil interview dan observasi, pemerintah melakukan upaya perluasan lahan TPA Sumur Batu. bagaimana menurut anda?
    Untuk kemungkinan pengelolaan sampah saya akan posting hasilnya, untuk itu selalu simak blog ini. jika anda meengetahui bentuk pengelolaannya, mohon infonya. terimakasih banyak.

  3. menurut saya perluasan TPA bukanlah solusi yang bijak. sampah akan terus menumpuk dan tidaka akan terjadi pengurangan. saya hanya ingin berbagi sesuatu, kemarin saya mengikuti pertemuan diskusi, disana saya bertemu dengan ibu-ibu yang bertempat tinggal di daerah Rawajati. Ibu-ibu tersebut bercerita bahwa di RTnya sudah melakukan pencacahan sampah. pencacahan dilakukan secara mandiri dan hasil pencacahan tersebut ternyata dapat bernilai ekonomis tinggi. dari kegiatan tesebut ada beberapa manfaat, yakni sampah tidak perlu lagi dibuang ke TPA karena sudah dikelola ditempat sehingga hal ini akan mengurangi penumpukan sampah, kedua kegiatan tersebut dapat menyerap banyak tenaga kerja sehingga berimplikasi kepada menurunnya tingkat pengangguran. apakah kegiatan tersebut dapat direplikasi di bekasi, dan bagaimana kemungkinan untuk direalisasikan?

    menurut saya sebuah kebijakan haruslah berperpektif pada partisipasi masyarakat. adanya partisipasi dari masyarakat akan membuat masyarakat menjadi ikut memiliki, mengola dan menjaga lingkungan tersebut sehingga kebersihan dan kenyamanan lingkungan pun dapat dinikmati bersama.

  4. Sangat menaik membaca hal tersebut, ditambah dengan beberapa manfaat yang dihasilkan., Dalam hal pengelolaan sampah ini memang sangat dibutuhkan partisipasi dari masyarakat.

    di beberapa daerah Kota Bekasi, berdasarkan hasil interview dengan pegawai dinas, terdapat daerah yang sudah mengolah sampah nya menjadi sesuatu yang berguna seperti kompos tersebut. Sebagian kegiatan tersebut adalah swadaya dri masyarakat, dan ada yang merupakan pilot project dari Pemerinah Kota Bekasi, namun pelaksaannya ada yang berhasil dan ada yang kurang berjalan dengan lancar.

    Bagaimanakh ibu-ibu di daerah Rajawali terbut melakukan hal tersbut? apakah mendapat bantuan dari pemerintah? sulit atau tidak dalam pelaksanaannya?
    terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s