Penanganan Sampah di Hulu

Sebelum masuk pada apa yang dimaksud dengan penangan sampah baiknya kita pahami maksud dari kata hulu. Istilah hulu dimaksudkan untuk memudahkan menyatakan sumber awal sampah yakni di perumahan ataupun perkampungan. Untuk muara akhir dari sampah-sampah tersebut adalah TPA yang selanjutnya untuk memudahkan disebut hilir.

Setelah melakukan beberapakali observasi dan interview di beberapa perumahan dan perkampungan di Kota Bekasi, penangan sampah yang dilakukan diawali dengan warga membuang sampah secara langsung disuatu wadah yang sering disebut dengan bak sampah. Untuk daerah perumahan warga memiliki bak sampah pribadi untuk kemudian sampah tersebut diangkut oleh pengangkut sampah yang disediakan oleh dinas kebersihan dengan menggunakan truk untuk selanjutnya dibawa ke hilir yakni TPA Sumur Batu. Daerah perkampungan sedikit berbeda dengan daerah perumahan, sampah mereka dibuang langsung disatu bak besar kemudian diangkut oleh gerobak ataupun truk untuk langsung dibuang ke TPA. Pengangkutan dilakukan seminggu atau dua minggu sekali, kadang terjadi keterlambatan dalam pengangkutan sehingga sampah dilingkungan tersebut menumpuk.

Berikut mekanisme pangangkutan berdasarkan hasil wawancara dengan pegawai Dinas Kebersihan:

  1. Mekanisme pertama

mekanime 1

  1. Mekanisme kedua. Mekanismeini lebih dominan dilakukan

mekanisme2

  1. Mekanisme ketiga. Dinamakan metode titik temu.

mekanisme3

Dari yang peneliti interview masih terdapat warga yang belum memisahkan sampahnya, mereka langsung membuang begitu saja. Pembuangan secara langsung oleh masyarakat didasarkan atas kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah. Hal ini belum sejalan dengan Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yakni penangan sampah diawal adalah dengan melakukan pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan/ sifat sampah.

Dengan membuang begitu saja sampah tanpa pemisahan dan tanpa pengolahan terlebih dahulu berdampak pada menumpuknya sampah di TPA sehingga umur TPA menjadi lebih singkat. Seperti dikatakan sebelumnya bahwa ketinggian tumpukan sampah mencapai 18-20 m dari titik nol. Tidak hanya itu kerusakan lingkungan pun terjadi, terutama didaerah yang dekat dengan TPA.

Namun, terlepas dari mereka yang terbiasa membuang sampahnya begitu saja, terdapat daerah yang telah memanfaatkan sampah organiknya menjadi kompos dan sampah anorganiknya dijual.

Bagaimanakah komentar anda terkait penangan sampah yang seperti ini? bagaimanakah mekanisme penanganan sampah dirumah anda? Adakah cara terbaik mengatasi masalah sampah terutama ditingkat hulu? Mohon kometarnya. Terimakasih.

PS:Mohon tinggalkan nama dan alamat email jika berkenan.

terimakasih telah menyimak dan berkomentar πŸ™‚

Advertisements

12 thoughts on “Penanganan Sampah di Hulu

  1. info yang sudah sangat familiar sekali di dunia pengelolaan sampah. hal ini sudah bisa di tebak ketika kita sebagai pemproduksi sampah hulu tidak ada kesadaran untuk mengelolah sampah dengan baik. sekarang kembali kepada setiap warga yang melihat bagaimana sampah itu dpat di artikan, hanya di artikan sebagai sampah yang tak bergina atau justru sampah yang sangat bernilai ekonomis tinggi jika kita pintar memilah. menurut saya tidak hanya dari masyarakat itu sendiri tetapi harus juga dari pemerintah yang selayaknya mengurusi masalah sosial seperti kebutuhan masyarat ini juga bertindak. sosialisasi dan pendekatan yang rutin meski sulit tetapi juka sangat ingin sistem berubah tetap harus dilakukan. jika pemerintah tidak ada tindakan sama sekali untuk merubah di tingkat hulu ini sama saja ketika kita sabagai pemroduksi sampah hulu sudah bertindah dengan dilakukannya pemilahan samapah dengan benar akan tetapi tidak ada perhatian yang mendalam akan hal ini akan sama saja dengan menimbulkan kekecewaan di warga. jadi yang ingin saya tanyakan adakah dari pihak pemerintah Bekasi yang memang benar-benar konsen dan fokus ke dalam masalah-masalah sosial sepertu khususnya sampah ini? adakah badan atau organisasi yang dibentuk pemerintah Bekasi atau yang bekerja sama dengan swasta,masyrakat, LSM yang berkonsentrasi akan masalah persampahan ini?

    • Terimakasih atas komentar anda. Memang saat ini masih sedikit warga yg mau mengelola sampahnya, dan itupun swadaya dari warga sendiri atau murni dari swasta. Masyarakat masih terbiasa dgn membuang sampah begitu saja.
      Untuk pemerintah sendiri yg menangani ini adalah Dinas Kebersihan. Pemerintah masih belum bekerjasama dgn pahak lain baik swasta, LSM maupun kelompok masyarakat lainnya dalam pengelolaan sampah di hulu.
      Bagaimana pengelolaan sampah di temat anda? Mungkin bisa dijadikan acuan untuk pemerintah Kota Bekasi dalam mengelola sampahnya ditingkat hulu. Terimakasih.

  2. menarik melihat realita sampah yang saudari paparkan tadi, tentunya ini wajah pengelolaan sampah di berbagai daerah di indonesia.

    saya sekeluarga mengelola sampah secara mandiri, sampah plastik kering di kumpulkan, kantung plastik kami gunakan lagi, sampah dapur kita tebar di kebun, sampah basah dapur yang berbau kita kubur, untuk kemasan botol minuman plastik kita taruh depan rumah agar di ambil pengumpul sampah, tetapi tetap saja masih ada sejumlah dikit sampah yang terpaksa kita bakar, 3-4 hari sekali.

    tentunya pengelolaan sampah seperti ini sudah kuno dan tidak menyelesaikan permasalahan sampah secara tuntas.
    menurut pandangan saya, persoalan sampah bukan tanggung jawab pemerintah saja, tetapi tanggung jawab moral individu. sebagai contoh ketika kita membeli makanan dalam kemasan, kita mendapatkan hak untuk menikmati makanan itu, sekaligus memiliki tanggung jawab terhadap kemasan makanan itu yang jika tidak berguna tentunya akan menjadi sampah. contoh lain tanggung jawab moral badan usaha, perusahaan percetakan media massa katakanlah, tentunya mereka punya tanggung jawab terhadap koran yang mereka cetak itu. selama masih berlaku koran itu, itu jadi barang berharga yang pantas di beli, namun jika sudah lewat periodenya koran itu menjadi sampah, korporasi mereka harus bertanggung jawab atas hasil produksi koran mereka. sekali lagi saya menekankan sampah bukan tanggung jawab pemerintah saja, melainkan tanggung jawab individual setiap manusia.
    solusi yang saya tawarkan untuk masalah ini adalah pendekatan lintas ilmu. yaitu:
    1. bagaimana pemerintah, dan lembaga non pemerintah melakukan pendekatan moral terhadap masyarakat, penyuluhan, bimbingan, budaya malu membuang sampah sembarangan.
    2 perubahan paradigma masyarakat tidak akan menyelesaikan masalah sampah sampai pada akarnya, perlu metode lain untuk mengimbangi langkah pertama yaitu sarana dan prasarana pengelolaan sampah. yang sudah nampak adalah pemisahan antara sampah organik dan non organik di tempat umum. (tetapi realitanya toh sampah yang sudah di pisahkan di campur juga oleh satu truk sampah, ini adalah indikasi bahwa pemerintah belum memfasilitasi sarana dan prasaran pengelolaan sampah)
    3 selain pendekatan moral, peningkatan sarana dan prasarana, selanjutnya adalah pemanfaatan iptek sekala rumahan. sampah organik tentunya bisa di buat pupuk, cara sederhana dengan di kubur. cara yang lebih rumit namun memiliki nilai ekonomi ya di buat kompos seperti yang saudari sampaikan di atas, namun yang kurang adalah pemerintah tidak memberikan stimulan bagi pelaku pengelolaan sampah, mereka mengelola sampah hingga bernilai jual, tetapi pemerintah tidak memberikan akses bagi peningkatan penjualan kompos mereka alias di lepas begitu saja,
    4 selanjutnya adalah regulasi, sistem perundang2an tentang sampah sudah cukup, tinggal penerapannya yang kurang baik.
    5 terakhir yang tidak kalah penting adalah reward dan punishment. ini yang tidak di jalankan oleh pemerintah. masyarakt tidak merasa di untungkan jika mengelola sampah dengan baik, dan merasa tidak dirugikan jika membuah sampah sembarangan. ini yang salah. reward dan punishment dapat diterapkan dengan sederhana, bisa berupa penghargaan lingkungan hidup sampai dalam bentuk uang. sangsi bisa berupa sanksi sosial sampai pidana. yang penting adalah fungsi pemerintah sebagai kontrol masyarakat itu di jalankan sebaik2nya termasuk didalamnya reward dan punnisment ini.

    ke lima langkah tersebut jika dijalankan secara sinergis dan terintegrasi tentunya akan mempermudah pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. saya rasa permasalahan sampah di hilir ini umum, sampah hanya pantas di bakar karena tidak bernilai ekonomi, dan lebih baik di bakar agar tidak menjadi sumber penyakit. tetapi kan pada dasarnya sampah (organisk maupun non organik) sangat bernilai ekonomis jika sampah itu di sortir berdasarkan jenis, sudah di keringkan terlebih dahulu, dan sudah di hancurkan. ini yang sama sekali belum implementasi, saya pake bahasa sendiri tentang pengelolaan sampah, hulu/input nya kan masyarakat, produsen sampah, seharusnya kegiatan sortir sampah sudah mulai tahap ini. selanjutnya tahap proses, pengumpul sampah,maap, pemulung yaitu kegiatan distribusi sampah dan sortir tahap kedua, sampai di hilir,/tps/tpa sampah ini seharusnya sudah siap jual, sudah di sortir, sudah di keringkan, tinggal siap hancurkan dan jual berupa bijih plastik, bijih besi, atau bijih kertas untuk di daur ulang.

    jika kelima opsi yang saya paparkan diatas di laksanakan, saya yakin pengelolaan hulu-hilir masalah sampah akan lebih mudah dan menguntungkan bagi masyarakat,pelaku usaha sampah mulai dari pemulung sampai pengepul sampah, pemerintah, dan lingkungan hidup itu sendiri.

    terimakasih, mohon di koreksi

  3. Penanganan sampah hulu sebenarnya harus disadari oleh warga perumahan itu sendiri.. cara awal penanganan sampah sebaiknya para warga diberi pengetahuan mana sampah yang bs digunakan dan tidak. Yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak bisa. Baru bisa pindah ke langkah selanjutnya.. Masih banyak loh warga warga yang buang sampah di sungai. 😦 Mungkin cara praktis lebih dipilih oleh warga.

  4. Mekanisme sampah di rumah saya, hanya di kumpulkan sampahnya di kantong plastik, lalu akan diambil sekitar 2- 3 hari kemudian. Kalo menurut saya, kesadaran masyarakat itu yang paling penting. masyarakat minim pengetahuan tentang perbedaan 3 macam tempat sampah. jika diberikan penyuluhan pasti akan lebih baik. dibutuhkan adanya saling kerjasama dan kesadaran akan pentingnya memilah sampah.

    sekian dari saya, terima kasih.

  5. Kalau ditempat saya, sampah2 tiap rumah dikumpulkan dalam 1 kantong plastik atau lebih, kemudian dikumpulkan lalu 2 hari kemudian akan segera diangkut.
    untuk penanganannya, karena minim pengetahuan masyarakat akan pentingny memilah sampah, maka penting adanya penyuluhan bagi2 warga.. itu menurut saya akan membantu.
    sekian dari saya. terima kasih.

  6. Assalamualaikum…
    Sampah.. oh sampah. Sampah memang menjadi masalah utama di wilayah perkotaan, apalagi yang namanya SAMPAH MASYARAKAT, udah jadi biang masalah, pembuat onar dan rusuh, membebani negara pula, maka buanglah SAMPAH MASYARAKAT pada TEMPATNYA, hehehe… just intermezzo… πŸ™‚
    Bagaimanakah komentar anda terkait penangan sampah yang seperti ini?
    Serba dilematis memang jika kita membicarakan pola2 penanganan sampah di Hulu seperti yang anda paparkan. semua hanya berpatokan pada prosedur formal yang namanya mekanisme dan peraturan. Klasik dan terkesan menganggap remeh masalah sampah. Metode tersebut hanya terfokus kepada bagaimana sampah tersebut diangkut dan dipindahkan dari satu tempat yang kecil dan sempit (RUMAH) ke tempat lain yang lebih besar dan luas (TPS/TPA). konsentrasikanlah penanganan sampah pada pemisahan jenisnya dan pemanfaatannya/daur ulang, bukan pada bagaimana mengangkut dan memindahkannya. ketiga mekanisme diatas menurut saya “serupa tapi tak sama”, bedanya hanya diangkut gerobak/truk dan diangkut ke TPS atau langsung ke TPA. pertanyaan yang timbul di benak saya dari ketiga metode penanganan sampah diatas adalah apakah dinas kebersihan Kota Bekasi (maaf) “terlalu bodoh” sehingga ketiga mekanisme yang ada diatas hanya memilah2 mekanisme yang intinya sama?. toh kan ujung-ujungnya sampah akan menumpuk di TPA juga. pertanyaan selanjutnya pun muncul, ketika ketiga mekanisme ini dijalankan, kok masih saja masalah sampah belum tertangani? terbukti dengan menumpuknya sampah di TPS/TPA. berarti ada yang kurang dari mekanisme ini.
    Saya juga ingin menyoroti pernyataan anda tentang “Pengangkutan dilakukan seminggu atau dua minggu sekali, kadang terjadi keterlambatan dalam pengangkutan sehingga sampah dilingkungan tersebut menumpuk”. mengapa hanya seminggu atau dua minggu sekali? dan bukankah sampah rumahan itu dihasilkan tiap hari. Sekedar mengingatkan bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia cenderung konsumtif, sehingga sampah yang dihasilkan pun ada dalam volume yang besar tiap harinya. Maka janganlah heran kalau sampah akan terus menumpuk di TPS kalau diangkutnya hanya sekali atau dua minggu sekali, apalagi jika sering terlambat mengangkut!!! apa mungkin dana operasionalnya kurang besar? mungkin juga sarana pengangkutannya kurang? atau mungkin tenaga operasionalnya yang kurang? Wallahualam Bissowaf, mungkin penulis bisa menelusiri kurang-kurang yang saya sebutkan tadi!!! hehehehehe… πŸ™‚

  7. Bagaimanakah mekanisme penanganan sampah dirumah anda?
    Di rumah saya penanganan sampah sudah menggunakan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sesuai dengan anjuran Pemerintah lewat Permen PU No.21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan dan Pengelolaan Persampahan.
    Reduce (mengurangi), mencoba mengurangi pola-pola hidup konsumtif yang pada akhirnya bisa meminimalisir jumlah sampah rumahan yang kemungkinan dihasilkan. Hal lainnya adalah mengurangi penggunaan tas plastik, nek wong jowo nyebut e “Kresek” :), karena kantong plastik adalah elemen sampah yang sulit terurai.
    Reuse (menggunakan kembali), memanfaatkan barang-barng bekas yang sulit terurai untuk keperluan lainnya, sebagai contoh: galon, ember bekas, ban bekas, botol bekas,untuk wadah menanam bunga (pot bunga) di rumah. buku-buku pengetahuan dan cerita lama dikumpulkan untuk perpustakaan mini di rumah. kardus-kardus dan tas kain untuk wadah pembuangan sementara sampah di rumah karena lebih awet dan bisa digunakan berulang-ulang.
    Recycle (mendaur ulang), mengelola sampah-sampah organik menjadi pupuk alami (kompos) yang bisa digunakan kembali untuk menyuburkan tanaman.
    Bak sampah di rumah saya pun sudah dipilah walupun masih sebatas 2 penggolongan yaitu sampah basah dan kering, hal ini untuk memudahkan pemisahan ketika kita ingin mendaur ulang sampah-sampah yang benar-benar sudah tidak bisa digunakan lagi.
    Jika dilihat dari sudut pandang pengangkutan, di rumah saya sampah diangkut 2 hari sekali oleh petugas pengangkut sampah kompleks perumahan, sehingga meminimalisir bau dan penumpukan, yah… walupun tetap harus membayar insentif bulanan atas nama “retribusi kebersihan”, yang penting tidak bau dan numpuk… hehehehehe πŸ™‚
    Selain diangkut oleh petugas pengangkut sampah kompleks perumahan, sampah-sampah lainnya yang masih bisa di daur ulang namun tidak dapat termanfaatkan di rumah, di berikan kepada (maaf) pemulung yang sering beredar di sekitaran rumah. hitung-hitung memberikan sampah sekalian menabung pahala… “sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui” hehehehe πŸ™‚

  8. Adakah cara terbaik mengatasi masalah sampah terutama ditingkat hulu?
    memang masih sulit untuk menemukan metode terbaik untuk mengatasi masalah sampah di tingkat hulu, mengingat sebagian besar masyarakat kita masih dalam pola hidup konsumtif dengan budaya’a yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Saya rasa reply dari mas Saptoaji di atas dan reply saya tentang pertanyaan “Bagaimanakah mekanisme penanganan sampah dirumah anda?” diatas sudah bisa sedikit memberikan pandangan akan pertanyaan saudara wastuwp… hohoho… πŸ™‚
    tambahannya terkait dengan mekanisme penanganan oleh dinas kebersihan Kota Bekasi sudah seharusnya memfasilitasi adanya pegolahan sampah (daur ulang) dimulai dari TPS yang ada, bukan hanya di TPA saja!!!
    Saya ingin menambahkan sedikit referensi, belajarlah dari negara-nagara maju seperti Jepang dan Amerika yang manajemen pengelolaan sampahnya sudah tergolong maju dan berhasil menangani masalah sampah.
    Data dari Lembaga Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency) menyebutkan, penduduk Amerika menghasilkan 250 juta ton sampah padat per tahun pada 2010. Bandingkan dengan jumlah sampah padat yang dihasilkan oleh penduduk Indonesia pada periode yang sama yang mencapai 56,3 juta ton pertahun. (http://www.hijauku.com/2012/05/08/belajar-mengelola-sampah-dari-negara-maju/)
    lihatlah perbandingan volume sampah yang dihasilkan, namun Indonesia masih pusing mikirin sampah ketimbang Amerika yang sudah beralih mikirin teroris!!! hahahahaha.. πŸ˜‰
    Di Osaka sampah dibagi menjadi tiga golongan, sementara di Yamagata sampah dibagi menjadi lima golongan. Di Osaka, sampah terbagi atas golongan sampah yang dapat dibakar (moeru gomi: bahasa Jepang atau combustible trash: bahasa Inggris), sampah yang tidak dapat/mudah dibakar (moenai gomi: bahasa Jepang atau non-combustible trash: bahasa Inggris), dan sampah botol minuman yang terbuat dari PET (PET bottle). Berbeda halnya dengan yang ada di Yamagata, di mana sampah dibagi menjadi sampah organik (seperti kertas, sisa-sisa makanan), sampah plastik (seperti kemasan makanan, detergen, dan bahan isi ulang), sampah berbahan logam/kaca/baterai, sampah bahan elektronik/alat listrik, dan sampah botol PET. Untuk membedakan antara golongan sampah yang satu dengan yang lain, kantung sampah dengan warna tertentu juga disediakan. Kantung-kantung sampah yang terbuat dari plastic ini dapat ditemukan di supermarket. Di Yamagata, sampah organik harus dimasukkan dalam ke kantung sampah warna coklat, sampah plastik ke kantung warna pink, sampah bahan logam/kaca/baterai ke kantung warna biru, sampah bahan elektronik/alat listrik ke kantung warna hijau, sementara untuk sampah botol PET harus dimasukkan ke kantung kantung warna kuning.
    Jadi di apartemen, saya harus selalu menyediakan kelima jenis kantung sampah plastik tersebut. Ketika sudah penuh, saya tinggal menaruh kantung tersebut di bak penampungan sampah yang berada di depan kompleks apartemen, tentunya disesuaikan dengan jadwal yang berlaku. Misalnya, untuk kantung sampah warna coklat akan diambil oleh petugas kebersihan dari penampungan setiap hari Senin dan Kamis, sementara untuk kantung sampah pink dan kuning akan diambil setiap hari Jumat. Nah, petugas pun akan mengambil warna kantung sampah yang sesuai dengan jadwal yang telah ada. Misalkan kita menaruh kantung sampah warna pink di hari Senin, maka hari itu petugas tidak akan mengambilnya dan akan membiarkannya tergeletak di bak penampungan menunggu hingga hari Jumat. (http://acikita.org/docs/2012/03/15/belajar-di-jepang-inspirasi-manajemen-sampah-rumah-tangga/).
    semuanya dimulai dari kebiasaan individu untuk lebih peduli pada lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, menghilangkan atau setidaknya meminimalisir budaya hidup konsumtif, serta melakukan manajemen pengelolaan sampah di rumah dengan lebih baik.
    referensi lengkap tentang metode 3R sebagai berikut:
    Reduce (Mengurangi sampah dengan mengurangi pemakaian barang atau benda yang tidak terlalu kita butuhkan)
    1. Kurangi pemakaian kantong plastik. Biasanya sampah rumah tangga yang paling sering di jumpai adalah sampah dari kantong plastik yang dipakai sekali lalu dibuang. Padahal, plastik adalah sampah yang perlu ratusan tahun (200-300 tahun) untuk terurai kembali. Karena itu, pakailah tas kain yang awet dan bisa dipakai berulang-ulang.
    2. Mengatur dan merencanakan pembelian kebutuhan rumah tangga secara rutin misalnya sekali sebulan atau sekali seminggu.
    3. Mengutamakan membeli produk berwadah, sehingga bisa diisi ulang.
    4. Memperbaiki barang-barang yang rusak (jika masih bisa diperbaiki).
    5. Membeli produk atau barang yang tahan lama.

    Reuse (Memakai dan memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang baru)
    1. Sampah rumah tangga yang bisa digunakan untuk dimanfaatkan seperti: koran bekas, kardus bekas susu, kaleng susu, wadah sabun lulur, dsb. Barang-barang tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin misalnya diolah menjadi tempat untuk menyimpan tusuk gigi atau cotton-but.
    2. Selain itu barang-barang bekas tersebut dapat dimanfaatkan oleh anak-anak, misalnya memanfaatkan buku tulis lama jika masih ada lembaran yang kosong bisa dipergunakan untuk corat coret, buku-buku cerita lama dikumpulkan untuk perpustakaan mini di rumah untuk mereka dan anak-anak sekitar rumah.
    3. Menggunakan kembali kantong plastik belanja, untuk belanja berikutnya.

    Recycle (Mendaur ulang kembali barang lama menjadi barang baru)
    1. Sampah organik bisa di manfaatkan sebagai pupuk.
    2. Sampah anorganik bisa di daur ulang menjadi sesuatu yang bisa digunakan kembali contohnya: mendaur ulang kertas yang tidak di gunakan menjadi kertas kembali, botol plastik bisa di sulap menjadi tempat alat tulis, plastik detergen, susu, bisa di jadikan tas cantik, dompet, dll.
    3. Disetorkan ke bank sampah yang kemudian dikonversikan ke tabungan.

    Diposkan oleh Rizka Dwipa Anggana di 22.18 (http://banksampahmelatibersih.blogspot.com/2013/02/penerapan-sistem-3r-dalam-pengelolaan.html#.UY28mVmw_IU)

  9. menurut saya akan lebih mudah mengajak masyarakat untuk mengelola sampah jika mengelola sampah dapat menghasilkan pendapatan baru bagi mereka. tidak dapat kita pungkiri bahwa seringkali masyarakat belum menyadari sepenuhnya manfaat dari pengelolaan sampah, atau sudah memahami manfaat pengelolaan sampah tetapi masih enggan melakukan pengelolaan karena merasa tidak ada untungnya (dalam hal ini dari sapek ekonomi). Saya sangat berharap pemerintah dan pihak swasta dapat memfasilitasi hal ini. Saya pernah mengikuti seminar yang menghadirkan pengusaha pengelola sampah yang sukses yaitu bapak M. Baedowy. Beliau bisa mendulang miliaran rupiah dari sampah yang beliau kelola. Menurut hemat saya jika pemerintah aktif melakukan pendampingan dan penyaluran modal untuk usaha seperti ini akan sangat besar pengaruhnya bagi pemecahan permasalahan sampah baik di Kota Bekasi maupun Indonesia pada umumnya.

  10. Ikut berkomentar,mengatasi sampah (buka)teknologitpa.blogspot.com di wil Bekasi,Cikarang dan bahkan Jakarta atau Bogor sdh banyak pok warga yg menggunakan dan semua berhasil atasi smpah yg ada.dlm cuaca apapun,kondisi sampah basah busuk berbau yg sgt menjijikkan mesti teratasi dgn mudah dgn alat yg serba sederhana.Trima ksih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s