Pilihan Pengelolaan Sampah

Berdasarkan hasil penelitian pilihan tersebut dapat dilihat dari evaluasi yang dilakukan baik oleh masyarakat, LSM (GMPLH dan Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional).

Masyarakat menyebutkan bahwa selama ini pola pengangkutan adalah door-to-door dan tidak melakukan pemilahan sampah karena fasilitas pemilahan tidak ada. Sedangkan masyarakat yang tinggal dekat dengan TPA Sumur Batu yakni masyarakat Kelurahan Sumur Batu terkena dampak pencemaran lingkungan sebagai dampak dari keberadaan TPA Sumur Batu yang dikelola belum sesuai dengan standar. Menilai hal tersebut masyarakat menghendaki pengelolaan pada skala kecil atau tingkat rumah tangga. Pengelolaan tersebut dapat dengan melakukan pengkomposan terhadap sampah organik ataupun dengan melakukan bank sampah terhadap sampah anorganik. Tidak hanya itu, masyarakat menilai bahwa pengelolaan TPA perlu dilakukan kerjasama antar daerah agar pengelolaan TPA mudah dan dapat melakukan kerjasama dalam hal anggaran. Masyarakat pun menghendaki untuk penerapan reward dan punishment agar pengelolaan sampah ini dapat berjalan dengan baik karena selama ini masyarakat tidak merasa dirugikan jika mereka tidak melakukan pengelolaan dan tidak merasa diuntungkan jika mereka telah melakukan pengelolaan sampah. Ketika kehendak tersebut diberikan oleh masyarakat dapat diartikan bahwa dalam masyarakat telah muncul kesadaran akan pengelolaan sampah. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat sudah ada motif untuk mengolah sampah.

LSM menilai bahwa pengelolaan di TPA yang selama ini dilakukan belum sesuai dengan standar dimana LSM menilai standar yang harus dilakukan di pengelolaan adalah sesuai dengan prosedur operasional dari controlled landfil atau menerapkan sanitary landfill, karena jika menerapkan contrilled landfill sesuai dengan prosedur operasional akan meminimalisir dampak negatif. Hal ini dikarenakan pengelolaan yang selama ini berdampak pada kesehatan masyarakat yang menurun dan pencemaran lingkungan. Jika melihat volume saat ini di TPA harus dilakukan pengelolaan ditingkat sumber karena untuk memudahkan sistem operasional TPA jika volume sampah yang dibuang ke TPA lebih kecil. Tidak hanya itu, di TPA sudah terdapat pengelolaan sampah namun fasilitas yang disediakan tidak termanfaatkan dengan baik dan kerjasama yang dilakukan tidak pada satu atap.

Pengelolaan di sumber seperti perumahan dan pasar dapat berupa melakukan pengelolaan terhadap sampah organik atau dengan membangun Rumah Kompos dimana sampah organik diolah dengan melakukan pencacahan dan dijadikan sumber daya yang bermanfaat seperti kompos. Pada pengelolaan dengan membangun Rumah Kompos ini dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA serta menyerap tenaga kerja. Dari produk ini dapat digunakan sendiri ataupun dijual. Jika untuk sampah anorganik dapat dijual atau dengan membangun pabrik daur ulang sampah anorganik di TPA Sumur Batu, hanya saja pada penerapan pabrik ini harus memperhatikan posisi pemulung yang tinggal di lingkungan TPA. Pelaksanaan Rumah Kompos atau dengan pengelolaan sampah di sumber membutuhkan peran dari pemerintah Kota Bekasi dan partisipasi masyarakat.

Sejauh ini LSM menilai bahwa masyarakat belum terbiasa akan pengelolaan sampah hal ini dikarenakan belum ada sosialisasi secara menyuluruh dan belum ada fasilitas yang disediakan. Hal ini berdampak pada rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Guna terlaksananya pengelolaan sampah ditingkat sumber tersebut dibutuhkan partisipasi masyarakat. Peningkatan partisipasi masyarakat harus dilakukan secara berkelanjutan. Dimana pemerintah harus memberikan penyuluhan, kampanye, trainingworkshop, sampai pada masyarakat dapat melakukan perencanaan terkait pengelolaan sampah serta pemerintah wajib memberikan bantuan terkait fasilitas pengelolaan sampah. Selain itu diperlukan instrumen penegak hukum guna terlaksanya pengelolaan sampah dapat berjalan dengan lancar, dimana diperlukan reward dan punishment. Ketika penilaian tersebut diberikan LSM, dapat dikatakan bahwa dalam pengelolaan sampah dibutuhkan pengelolaan di tingkat sumber dan TPA agar sampah yang dihasilkan dapat dikelola dan termanfaatkan. Selain itu volume sampah yang dibuang akan berukurang sehingga meringankan beban pemerintah dalam melakukan pemrosesan akhir di TPA. Tidak hanya itu penggunaan teknologi tinggi seperti incenerator diperlukan dalam pengelolaan sampah khususnya pada tingkat TPA namun perlu diperhatikan dampak yang ditumbulkan dan sumber daya yang dibutuhkan.

Pilahan publik ini dinilai dapat menyelesaikan masalah sampah dimana pilihan tersebut adalah (1) Sosialisasi pengelolaan sampah, (2) Melakukan pemilahan sampah di tingkat sumber, (3) Membangun partisipasi masyarakat dengan Rumah Kompos, (4) Melakukan Bank Sampah, (5) Membangun pabrik daur ulang sampah di TPA Sumur Batu, (6) Melakukan kerjasama antar daerah dalam pengelolaan TPA Sumur Batu, (7) Menggunakan teknologi incenerator.

Bagaimana komentar kalian?