About wastuwp

Seorang perantau dari Kota Bekasi, saat ini sebagai Mahasiswi Jurusan Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya angkatan 2009.

Pilihan Pengelolaan Sampah

Berdasarkan hasil penelitian pilihan tersebut dapat dilihat dari evaluasi yang dilakukan baik oleh masyarakat, LSM (GMPLH dan Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional).

Masyarakat menyebutkan bahwa selama ini pola pengangkutan adalah door-to-door dan tidak melakukan pemilahan sampah karena fasilitas pemilahan tidak ada. Sedangkan masyarakat yang tinggal dekat dengan TPA Sumur Batu yakni masyarakat Kelurahan Sumur Batu terkena dampak pencemaran lingkungan sebagai dampak dari keberadaan TPA Sumur Batu yang dikelola belum sesuai dengan standar. Menilai hal tersebut masyarakat menghendaki pengelolaan pada skala kecil atau tingkat rumah tangga. Pengelolaan tersebut dapat dengan melakukan pengkomposan terhadap sampah organik ataupun dengan melakukan bank sampah terhadap sampah anorganik. Tidak hanya itu, masyarakat menilai bahwa pengelolaan TPA perlu dilakukan kerjasama antar daerah agar pengelolaan TPA mudah dan dapat melakukan kerjasama dalam hal anggaran. Masyarakat pun menghendaki untuk penerapan reward dan punishment agar pengelolaan sampah ini dapat berjalan dengan baik karena selama ini masyarakat tidak merasa dirugikan jika mereka tidak melakukan pengelolaan dan tidak merasa diuntungkan jika mereka telah melakukan pengelolaan sampah. Ketika kehendak tersebut diberikan oleh masyarakat dapat diartikan bahwa dalam masyarakat telah muncul kesadaran akan pengelolaan sampah. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat sudah ada motif untuk mengolah sampah.

LSM menilai bahwa pengelolaan di TPA yang selama ini dilakukan belum sesuai dengan standar dimana LSM menilai standar yang harus dilakukan di pengelolaan adalah sesuai dengan prosedur operasional dari controlled landfil atau menerapkan sanitary landfill, karena jika menerapkan contrilled landfill sesuai dengan prosedur operasional akan meminimalisir dampak negatif. Hal ini dikarenakan pengelolaan yang selama ini berdampak pada kesehatan masyarakat yang menurun dan pencemaran lingkungan. Jika melihat volume saat ini di TPA harus dilakukan pengelolaan ditingkat sumber karena untuk memudahkan sistem operasional TPA jika volume sampah yang dibuang ke TPA lebih kecil. Tidak hanya itu, di TPA sudah terdapat pengelolaan sampah namun fasilitas yang disediakan tidak termanfaatkan dengan baik dan kerjasama yang dilakukan tidak pada satu atap.

Pengelolaan di sumber seperti perumahan dan pasar dapat berupa melakukan pengelolaan terhadap sampah organik atau dengan membangun Rumah Kompos dimana sampah organik diolah dengan melakukan pencacahan dan dijadikan sumber daya yang bermanfaat seperti kompos. Pada pengelolaan dengan membangun Rumah Kompos ini dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA serta menyerap tenaga kerja. Dari produk ini dapat digunakan sendiri ataupun dijual. Jika untuk sampah anorganik dapat dijual atau dengan membangun pabrik daur ulang sampah anorganik di TPA Sumur Batu, hanya saja pada penerapan pabrik ini harus memperhatikan posisi pemulung yang tinggal di lingkungan TPA. Pelaksanaan Rumah Kompos atau dengan pengelolaan sampah di sumber membutuhkan peran dari pemerintah Kota Bekasi dan partisipasi masyarakat.

Sejauh ini LSM menilai bahwa masyarakat belum terbiasa akan pengelolaan sampah hal ini dikarenakan belum ada sosialisasi secara menyuluruh dan belum ada fasilitas yang disediakan. Hal ini berdampak pada rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Guna terlaksananya pengelolaan sampah ditingkat sumber tersebut dibutuhkan partisipasi masyarakat. Peningkatan partisipasi masyarakat harus dilakukan secara berkelanjutan. Dimana pemerintah harus memberikan penyuluhan, kampanye, trainingworkshop, sampai pada masyarakat dapat melakukan perencanaan terkait pengelolaan sampah serta pemerintah wajib memberikan bantuan terkait fasilitas pengelolaan sampah. Selain itu diperlukan instrumen penegak hukum guna terlaksanya pengelolaan sampah dapat berjalan dengan lancar, dimana diperlukan reward dan punishment. Ketika penilaian tersebut diberikan LSM, dapat dikatakan bahwa dalam pengelolaan sampah dibutuhkan pengelolaan di tingkat sumber dan TPA agar sampah yang dihasilkan dapat dikelola dan termanfaatkan. Selain itu volume sampah yang dibuang akan berukurang sehingga meringankan beban pemerintah dalam melakukan pemrosesan akhir di TPA. Tidak hanya itu penggunaan teknologi tinggi seperti incenerator diperlukan dalam pengelolaan sampah khususnya pada tingkat TPA namun perlu diperhatikan dampak yang ditumbulkan dan sumber daya yang dibutuhkan.

Pilahan publik ini dinilai dapat menyelesaikan masalah sampah dimana pilihan tersebut adalah (1) Sosialisasi pengelolaan sampah, (2) Melakukan pemilahan sampah di tingkat sumber, (3) Membangun partisipasi masyarakat dengan Rumah Kompos, (4) Melakukan Bank Sampah, (5) Membangun pabrik daur ulang sampah di TPA Sumur Batu, (6) Melakukan kerjasama antar daerah dalam pengelolaan TPA Sumur Batu, (7) Menggunakan teknologi incenerator.

Bagaimana komentar kalian?

Penanganan Sampah di Hulu

Sebelum masuk pada apa yang dimaksud dengan penangan sampah baiknya kita pahami maksud dari kata hulu. Istilah hulu dimaksudkan untuk memudahkan menyatakan sumber awal sampah yakni di perumahan ataupun perkampungan. Untuk muara akhir dari sampah-sampah tersebut adalah TPA yang selanjutnya untuk memudahkan disebut hilir.

Setelah melakukan beberapakali observasi dan interview di beberapa perumahan dan perkampungan di Kota Bekasi, penangan sampah yang dilakukan diawali dengan warga membuang sampah secara langsung disuatu wadah yang sering disebut dengan bak sampah. Untuk daerah perumahan warga memiliki bak sampah pribadi untuk kemudian sampah tersebut diangkut oleh pengangkut sampah yang disediakan oleh dinas kebersihan dengan menggunakan truk untuk selanjutnya dibawa ke hilir yakni TPA Sumur Batu. Daerah perkampungan sedikit berbeda dengan daerah perumahan, sampah mereka dibuang langsung disatu bak besar kemudian diangkut oleh gerobak ataupun truk untuk langsung dibuang ke TPA. Pengangkutan dilakukan seminggu atau dua minggu sekali, kadang terjadi keterlambatan dalam pengangkutan sehingga sampah dilingkungan tersebut menumpuk.

Berikut mekanisme pangangkutan berdasarkan hasil wawancara dengan pegawai Dinas Kebersihan:

  1. Mekanisme pertama

mekanime 1

  1. Mekanisme kedua. Mekanismeini lebih dominan dilakukan

mekanisme2

  1. Mekanisme ketiga. Dinamakan metode titik temu.

mekanisme3

Dari yang peneliti interview masih terdapat warga yang belum memisahkan sampahnya, mereka langsung membuang begitu saja. Pembuangan secara langsung oleh masyarakat didasarkan atas kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah. Hal ini belum sejalan dengan Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yakni penangan sampah diawal adalah dengan melakukan pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan/ sifat sampah.

Dengan membuang begitu saja sampah tanpa pemisahan dan tanpa pengolahan terlebih dahulu berdampak pada menumpuknya sampah di TPA sehingga umur TPA menjadi lebih singkat. Seperti dikatakan sebelumnya bahwa ketinggian tumpukan sampah mencapai 18-20 m dari titik nol. Tidak hanya itu kerusakan lingkungan pun terjadi, terutama didaerah yang dekat dengan TPA.

Namun, terlepas dari mereka yang terbiasa membuang sampahnya begitu saja, terdapat daerah yang telah memanfaatkan sampah organiknya menjadi kompos dan sampah anorganiknya dijual.

Bagaimanakah komentar anda terkait penangan sampah yang seperti ini? bagaimanakah mekanisme penanganan sampah dirumah anda? Adakah cara terbaik mengatasi masalah sampah terutama ditingkat hulu? Mohon kometarnya. Terimakasih.

PS:Mohon tinggalkan nama dan alamat email jika berkenan.

terimakasih telah menyimak dan berkomentar 🙂

Penggunaan Teknologi dalam Pengelolaan Sampah di TPA Sumur Batu

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan terkait teknologi yang digunakan dalam melakukan pengelolaan sampah yang diterapkan TPA Sumur Batu milik Pemerintah Kota Bekasi. Hal ini didasarkan atas interview yang dilakukan dengan Bapak Bagong Suyoto selaku Ketua dari Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional, Bapak Diding Ruswandi selaku Ketua Dekorta Bekasi Gerakan Masyarakat Pelestari Lingkungan Hidup (GMPLH) serta oprator teknisi dari PT.Gikoko

Penggunaan teknologi sangat diperlukan dalam pengelolaan sampah hal ini sejalah dengan dikeluarkannnya Undang-undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Pengelolaan yang dilakukan di TPA adalah dengan menerapkan program Clean Development Machanism (CDM). Dalam melaksankan program ini Pemerintah Kota Bekasi melakukan kerjasama dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia. Upaya ini merupakan bagian dari program pengurangan dampak gas methane (CH4), yang memiliki pengaruh langsung terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global (global warming) karena TPA merupakan salah satu sumber penyebab dari gas rumah kaca. Mekanisme ini menganut perdagangan karbon, setiap ton gas metan yang dibakar akan mendapat kompensasi. Namun pengelolaan ini masih tahap verifikasi. Selain itu pengelolan ini tidak mengurangi sampah, namun sampah akan berkurang dengan sendirinya karena proses dekomposisi. Saat ini zona yang dilakukan proyek ini adalah zona 1 dan 2 karena sudah tidak beroprasi lagi atau dengan kata lain sudah tidak dibuangi sampah. Untuk proyek ini hanya bisa dilakukan untuk zona yang sudah tidak aktif lagi.

Berikut gambar terkait program CDM

cdm

 

20130423_121026

Pengelolaan lain yang dilakukan di TPA adalah dengan membangun fasiltas pemilah sampah yang dilanjutkan dengan komposting. Tujuan dari komposting adalah untuk mengurangi sampah, misalnya sampah pasar dapat diolah menjadi kompos.  Pengelolaan ini dibawah naungan BUMD Mitra Patriot. Namun proses ini tidak dapat berjalan dengan lancar karena fasiltas yang tidak dimanfaatkan.

Upaya yang dilakukan ini belum bisa mengurangi sampah di TPA Sumur Batu karena belum sebanding antara sampah yang diolah dengan sampah yang datang tiap harinya.

Bagaimanakah menurut anda tekonologi pengelolaan yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Bekasi dalam pengelolaan di TPA Sumur Batu? Bagaimanakah pengelolaan TPA didaerah anda tinggal?

PS: mohon meninggalkan nama, pekerjaan dan alamat jika berkenan ketika memberikan komentar.termikasih.

Pemrosesan akhir dan kondisi lingkungan di sekitar TPA Sumur Batu

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan terkait bentuk pemrosesan akhir yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi dah kondisi lingkungan disekitar TPA. Hal ini didasarkan atas interview yang dilakukan dengan Bapak Bagong Suyoto selaku Ketua dari Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional, Bapak Diding Ruswandi selaku Ketua Dekorta Bekasi Gerakan Masyarakat Pelestari Lingkungan Hidup (GMPLH), pegawai Dinas Kebersihan serta warga sekitar TPA.

Berdasarkan Laporan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan di TPA Sumur Batu dan TPA Bantar Gebang, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu yang memiliki luas 11 Ha terbagi dalam 6 zona yakni:

  1. Zona I:        1,33 Ha
  2. Zona II:      1,2 Ha
  3. Zona III:     1,78 Ha
  4. Zona IV:     2,3 Ha
  5. ZonaV:       1,4Ha
  6. Zona IV:     1,97 Ha

Zona merupakan tempat berdasarkan landscap. Zona tersebut berfungsi untuk membedakan zona yang aktif dan zona yang sudah tidak aktif. Untuk saat ini zona yang aktif adalah zona V karena ke- 4 zona lainnya sudah penuh. Ketinggian rata-rata zona mencapai 18-20 m dari titik nol. Maksimal zona penuh dalam jangka waktu satu tahun. Solusi yang diberikan oleh pemerintah ketika zona tersebut penuh adalah dengan melakukan perluasan lagi.

Dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2008 diamanatkan bahwa dilarang melakukan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir untuk itu pemrosesan akhir di TPA menggunakan sistem konstruksi semiquasi open dumping atau semacam controlled landfill. Sebelum sampah dibuang, TPA harus dikonstruksi terlebih dahulu. Pada konstruksi ini harus terdapat pipa untuk mengalirnya air lindi yang dihasilkan dari timbulan sampah kemudian harus ditutup dengan tanah merah.

Dalam pelaksanaannya timbulan sampah baru akan ditutup tanah merah ketika ketinggian tumpukan mencapai 11m, hal ini yang menyebabkan timbulan sampah longsor dan menyebabkan bau dan banyak lalat. Tidak hanya itu, sudah tidak berfungsinya saluran IPAS berdampak pada airlindi yang dihasilkan akan mencemari lingkungan. Penumpukan sampah yang terjadi disebabkan bukan hanya karena pengelolaan di TPA yang kurang maksimal melainkan juga karena belum maksimalnya pengurangan sampah dari rumah tangga, pasar dan lain sebagainya.

beberapa gambar terkait TPA Sumur Batu

TPA Sumur Batu20130411_11093420130423_115444

Berdasarkan penuturan masyarakat sekitar kondisi lingkungan sekitar sangat terganggu dengan bau yang ditimbulkan dan suara bising akibat mobil truk dan alat berat yang dioprasikan. Untuk air minum rata-rata masyarakat di sekitar TPA harus membeli air. Kondisi kesehatan masyarakat sekitar sering mengalami sakit batuk, panas, gangguan pernapasan,untuk anak-anak mengalami plek (paru-paru) yang diawali dengan gangguan pernapasan sebagai akibat bau, udara kotor dan oprasional TPA. Biaya yang dikeluarkan untuk  kebutuhan masyarakat sekitar sangatlah mahal karena harus mengeluarkan biaya untuk pembelian air dan biaya kesehatan.

Bagaimanakah menurut anda kondisi seperti ini? Atau anda merupakan warga yang tinggal di sekitar TPA Sumur Batu?

PS:ketika memberikan komentar tuliskan nama, pekerjaan dan alamat jika berkenan.terimakasih 🙂

Mekanisme pengumpulan sampah

Peneliti melakukan pra-riset ke Dinas Kebersihan Kota Bekasi pada tanggal 31 Januari 2013. Menurut salah satu pegawai Dinas Kebersihan, Ibu Kiswatiningsih, mekanisme pengumpulan sampah di Kota Bekasi masih menggunakan paradigma kumpul – angkut – buang dengan cara door to door untuk lingkungan perumahan sedangkan untuk lingkungan perkampungan diberlakukan titik jemput. Titik jemput dimaksudkan, karena wilayah perkampungan sulit dijangkau dengan truk sampah, maka dikumpulkan dengan gerobak sampah lalu kemudian dipindahkan ke truk sampah pada waktu tertentu.

Dalam hal pengumpulan sampah, yang menjadi kendala adalah pemisahan sampah rumah tangga. Masih sulit dipisahkan antara sampah organik, anorgank dan B3 seperti batrei, lampu dan lain sebagainya.

Setelah melakukan pengumpulan sampah, sampah-sampah tersebut dibawa ke TPA Sumur Batu. Kondisi saat ini TPA Sumur Batu sudah sangat penuh, dimana luas wilayah nya hanya 10 hektar dan hanya bisa menampung sampah sampai tahun 2011, namun sampai sekarang masih tetap mendapat pasokan sampah.

Bagaimanakah pendapat anda mengenai hal ini? Bagaimanakah mekanisme pengumpulan sampah di tempat anda tinggal?

Mohon komentarnya. terimakasih.

Kondisi Sampah Kota Bekasi

Permasalahan lingkungan yang sampai saat ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia adalah sampah. Sampah  merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan barang sisa yang sudah tidak digunakan lagi dan harus dibuang. Dalam kamus lingkungan (1994) dikatakan bahwa Pengertian Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara biasa atau khusus dalam  produksi atau pemakaian; barang rusak atau cacat selama manufaktur; atau materi berkelebihan atau buangan. Secara umum sampah yang sering dijumpai dilingkungan masyarakat adalah sampah organik (mis: sampah dapur dan sampah restoran), sampah anorganik yang rentan terurai (mis: plastik, kaca) dan sampah industri yang berasal dari kegiatan industri.

Sampah yang tidak terurus dengan baik akan menyebabkan masalah yang tidak ada putus-putusnya, seperti menurunnya kesehatan, menurunnya nilai estetika, menimbulkan polusi udara sebagai akibat dari hasil pembakaran sampah secara terbuka, menyebabkan pencemaran air karena air pada sampah umumnya mengandung bahan kimia, bakteri dan kotoran yang dapat merembes dan menimbulkan pencemaran air. Kota-kota di Indonesia saat ini mengalami masalah sampah yang diakibatkan dari meningkatnya laju pertumbuhan penduduk yang menyebabkan kebutuhan meningkat, masayarakat yang tidak disiplin, perubahan gaya hidup menjadi konsumerisme, serta meningkatnya penguasaan teknologi dan industri yang menimbulkan pencemaran sebagai akibat hasil sisa industri.

Seperti halnya Kota Bekasi yang memiliki 12 kecamatan dengan jumlah penduduk pada tahun 2010 mencapai 2.084.000 dan belum termasuk penduduk sementara (sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi dalam Kota Bekasi dalam angka 2010), kota ini yang tidak hanya dijadikan wilayah pemukiman tapi juga kota perdagangan, jasa dan industri menyebabkan masalah sampah menjadi persoalan utama. Masalah yang dihadapi terkait sampah adalah tonase dan volume sampah yang terus meningkat. Pada tahun 2010 tonase sampah mencapai 138.346.45 ton dan volume sampah mencapai 553.665 meter kubik.

Tonase dan Volume sampah tersebut akan terus bertambah seiring bertambahnya penduduk, kebutuhan penduduk dan semakin pesatnya industri. Sampah di Kota Bekasi berasal dari berbagai sumber diantaranya dari pemukiman, indusitri, perkantoran dan taman serta pasar. Sampah yang dihasilkan tersebut dikelola oleh Pemerintah Kota Bekasi dengan cara (1) Pengumpulan sampah dari sumbernya, (2) pengangkutan sampah ke TPA, dalam hal ini adalah TPA Sumur Batu, (3) Pembakaran sebagian sampah dengan incenarator (www.bekasikota.go.id). Pengelolaan yang hanya seperti itu berakibat pada menumpuknya sampah di TPA Sumur Batu. Lahan TPA Sumur Batu hanya seluas 10 hektar dan lahan tersbut dibangun 4 zona yang seluruhnya sudah melebihi kapasitas, misalnya saja zona 4 ketinggian tumpukan sampah mencapai 20 meter yang idealnya hanya 15 meter dan hal ini menyebabkan longsornya tumpukan sampah.

Menumpuknya sampah di TPA menyebabkan masyarakat membuang sampah di badan jalan kawasan TPA dan mengakibatkan adanya tempat pembuangan sampah liar. Tidak hanya kelebihan muatan, pengelolaan tersebut juga menimbulkan pencemaran lingkungan. Air lindi yang dihasilkan mengalir langsung ke kali dan mencemari sumur-sumur warga sehingga menyebabkan menurunnya kualitas air dan warga sekitar TPA sulit mendapatkan air bersih. Tidak hanya pencemaran air tapi juga pencamaran udara yang terjadi karena bau busuk yang ditimbulkan dan hasil dari pembakaran sampah. Pencemaran ini akan berdampak buruk bagi kesehatan warga sekitar TPA. Pengelolaan sampah di Kota Bekasi yang seperti itu mengakibatkan Kota Bekasi mendapatkan julukan Kota Metropolitan Terkotor se-Indonesia oleh Kementrian Lingkungan Hidup yang diumumkan beretepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2010 (www.indopos.co.id). Masalah tersebut sebagai akibat dari pengelolaan sampah di Kota Bekasi tidak jelas apakah menggunakan sistem open-dumping atau sanitary landfill sehingga berbagai persoalan muncul dalam pengelolaan sampah di Kota Bekasi dan TPA tidak dikelola secara profesional (www.suarapembaruan.com)

Masalah-masalah tersebut akan terus berlangsung jika tidak ada penyelesaiinnya dan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan keadaan Kota Bekasi. Mari kita mulai menyadari dan peduli akan permasalah tersebut.

Terimakasih telah menyimak tulisan ini, tanggapan mengenai tulisan, komentar terkait masalah serta saran sangat ditunggu. Karena ini bersifat ilmiah, dalam komentar anda diharapkan dapat mencantumkan ID, nama, jabatan, dan instansi (tempat bekerja/belajar) agar komentar anda dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Terimakasih, terus simak blog ini yaa. 🙂

Selayang Pandang

marikelolasampah.wordpress.com dibuat oleh mahasiswi tingkat akhir Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang (baca: wandhira) sebagai salah satu media untuk penelitian. Penelitian yang akan dijalankan terkait kebijakan pengelolaan sampah, khususnya di Kota Bekasi, mengingat kota Bekasi merupakan wilayah padat penduduk dan sampah merupakan salah satu penyebabnya pencemaran lingkungan.

Melalui blog ini yang nantinya akan di posting temuan-temuan dari peneliti dari penelitian yang berjudul  Evaluasi Kebijakan Pengelolaan Sampah Merujuk pada Alternatif Pengelolaan Sampah (Studi pada Pengelolaan Sampah Kota Bekasi). diharapkan akan muncul berbagai komentar terkait pengelolaan sampah, harapan masyarakat serta saran-saran untuk pengelolaan sampah yang kemudian akan disusun sebagai alternatif-alternatif kebijakan.

Semoga blog ini bermanfaat. Amiin